Loading...

Internet of Things unutk Pemberdayaan Petani dalam Pengelolaan Padi dan Palawija:Controlling dan Monitoring Hewan Liar Perusak Tanaman

Innovillage
Share post:

Desa Garungwiyoro, Kecamatan Kandangserang, Kabupaten Pekalongan merupakan salah satu daerah di Pekalongan yang berada pada dataran tinggi dengan ketinggian 750 mdpl. Sebagian besar wilayah Desa Garungwiyoro merupakan lahan pertanian dan perkebunan, karena daerahanya yang berada pada dataran tinggi serta tanahnya yang subur sehingga cocok untuk lahan pertanian dan perkebunan, adapun hasil pertanian dan perkebuanan yang ada di desa Garungwiyoro seperti padi, jagung, cabai, tomat, terong, pisang, cengkeh, kopi, beberapa jenis sayur-sayuran dan umbi-umbian. Namun sebagian besar lahan pertanian dan perkebunan berbatasan dengan hutan pinus, hal ini membuat banyaknya satwa liar seperti monyet, burung, babi dan lain-lain yang dapat masuk dan merusak hasil pertanian atau perkebunan warga Desa Garungwiyoro.

Salah satu satwa liar yang kerap masuk dan merusak hasil peranian atau perkebunan warga desa Garungwiyoro adalah Babi hutan. Makanan babi hutan adalah berbagai jenis tumbuhan yaitu daun, buah, biji dan umbi, ukuran rata-rata babi hutan menurut Wikipedia.org dapat mencapai berat 200 kg dangan Panjang 1,8 m serta tinggi 75 cm. Sehingga babi hutan dapat merusak berbagai jenis tanaman, bukan hanya untuk dimakan bahkan beberapa jenis tanaman seperti padi dan jagung Ketika dilewati oleh babi hutan juga akan rusak. Beberapa warga pun ada yang mengeluhkan bibit pohon seperti sengon, jati, dan cengkeh rusak dan mati karena digali dan dirobohkan oleh babi hutan.

Upaya yang sudah dilakukan oleh warga desa Garungwiyoro untuk mengusir dan membasmi babi hutan adalah dengan membayar pemburu ketika musim bertani. Namun upaya ini dirasa belum efektif karena setiap musim pertanian babi hutan selalu datang, meskipun sudah dilakukan pemburuan. Hal ini disebabkan proses pemburuan yang kurang merata keseluruh wilayah pertanian, serta sarang babi hutan yang jarang ditemukan. Selain itu biaya pemburu yang tidak murah sehingga cukup memberatkan warga, terlebih lagi masih ada lahan pertanian yang rusak meskipun telah membayar pemburu. Bedasarkan permasalahan tersebut maka dibutuhkan suatu wahana yang mampu mendeteksi babi hutan dan sarang babi hutan sehingga warga desa Garungwiyoro sendiri dapat melakukan tindakan pencegahan untuk menanggulangi dampak dari babi hutan. Sehingga warga dapat menanggulangi permasalahan babi hutan tanpa harus mengeluarkan biaya untuk melakukan pengusiran babi hutan. Serta diharapkan dengan berkurangnya kerusakan akibat babi hutan hasil pertanian yang didapat oleh warga desa garungwiyoro dapat meningkat dan lebih baik.

Solusi yang tim Solidwork V2 tawarkan kepada warga desa Garungwiyoro adalah membuat sebuah wahana terbang yang mampu mendeteksi dan mengirimkan lokasi dari hama (babi hutan/sarang babi hutan) sehingga warga dapat melakukan tindakan pencegahan dari kerusakan yang akan ditimbulkan oleh babi hutan. Wahana ini kami beri nama GoGENK merupakan singkatan dari Golek GNjiK yang dalam Bahasa indonesi berarti mencari babi hutan. GoGENK kami desain berbentuk balon udara radio control yang membawa muatan wahana yang mampu mendetekti lokasi babi hutan dan sarangnya. GoGENK nantinya akan di terbangkan dengan ketinggian 100 m di area pertanian dengan proses kontrol secara manual GoGENK akan menyisir seluruh area secara perlahanan sehingga kamera yang dapat mendeteksi apabila terdapat babi hutan maupun sarang babi hutan. Setelah babi hutan atau sarang babi hutan terdeteksi kemudian GoGENK akan mengirimkan titik koordinat dari babi hutan maupun sarang babi hutan ke wahana yang berada pada warga, sehingga warga dapat mengikuti rute yang ditampilkan untuk menemukan babi hutan atau sarang babi hutan yang telah dideteksi.

Tahapan untuk mengimplemantasikan projek ini antara lain sebagai berikut:

1. Koordinasi tim terkait pembagian tugas masing-masing anggota.

2. Koordinasi awal dengan dosen pembimbing untuk menentukan tahapan implementasi.

3. Koordinasi dengan wahana desa.

4. Konsultasi dengan narasumber ahli.

5. Pembuatan desain serta rangkaian dari wahana.

6. Koordinasi dengan dosen pembimbing terkait desain dan rangkaian wahana.

7. Pembelian komponen sesuai kebutuhan.

8. Pembuatan wahana sesuai dengan tugas masing-masing anggota.

9. Intergrasi hasil dari wahana yang telah dibuat oleh masing masing anggota.

10. Simulasi dan pengujian wahana.

11. Koordinasi dengan dosen pembimbing terkait hasil pengujian dan simulasi.

12. Implementasi projek pada lokasi yang ditentukan.

13. Sosialisasi projek ke warga terkait manfaat dan cara kerja wahana.

Dengan tahapan diatas diharapkan dalam waktu 6 minggu dapat selesai dan tidak ada kendala sehingga project dapat berjalan dengan baik dan bermanfaat untuk warga desa Garungwiyoro.

Tonton keseruannya disini : https://youtu.be/OSFwtG1j4NI

#Innovillage2022 #DigitalUntukSemua
Share post:
Top