Terobosan Hidroponik Pintar di Bonto-Bontoa
01 November 2024
Universitas Telkom
Projek
- Judul:Terobosan Hidroponik Pintar di Bonto-Bontoa
- Tanggal:01 November 2024 - 01 Februari 2025
- Lokasi Sosial Projek:SULAWESI SELATAN, KABUPATEN GOWA, SOMBA OPU, BONTO-BONTOA.
Inovator
- Perguruan Tinggi:Universitas Telkom
- Ketua:Rachmad Sukri
- Angota#1:Rachmad Sukri, Irda Syahrani Tamsir Najla Mahfuzah Busran
SDGs
Mengakhiri Kelaparan Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi Infrastruktur, Industri dan Inovasi Konsumsi dan Produksi yang BertanggungjawabShare
Deskripsi
PERTANIAN hidroponik sudah lama dikenal sebagai metode bercocok tanam yang efisien di lahan terbatas. Namun, di Kelurahan Bonto-Bontoa, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, konsep ini menemukan bentuk yang lebih maju. Selama bertahun-tahun, masyarakat di wilayah ini bergantung pada perkebunan cengkeh, pala, dan jagung dengan teknik tradisional. Hasilnya tidak selalu stabil, apalagi sebagian besar warga yang sekitar seperempat di antaranya berusia di atas 46 tahun, sudah mulai kesulitan menjaga produktivitas. Dalam kondisi inilah, tim mahasiswa Universitas Telkom hadir dengan gagasan baru: menggabungkan hidroponik dengan teknologi Internet of Things (IoT) dan cloud computing. Inovasi ini lahir dari kebutuhan praktis. Usaha hidroponik mandiri sebenarnya sudah ada, tetapi pengelolaannya masih seadanya karena keterbatasan dana dan akses teknologi. Tim merancang sistem berbasis web yang terhubung dengan perangkat IoT, sehingga petani dapat memantau kondisi tanaman secara real-time. Sensor pH, suhu, dan ppm dipasang untuk memberi gambaran akurat tentang kebutuhan tanaman. Semua informasi tersaji di layar dengan antarmuka sederhana yang mudah dipahami. Tak berhenti di situ, sebuah greenhouse dibangun untuk melindungi tanaman dari hujan deras, angin kencang, dan hama, menciptakan ruang budidaya yang lebih stabil. Proses implementasi jauh dari mulus. Pada tahap kedua, sistem web dan perangkat IoT sebenarnya sudah siap digunakan. Namun, cuaca ekstrem menjadi ujian berat. Hujan deras yang terus menerus membuat greenhouse roboh dua kali. Tim harus kembali ke papan gambar, mengevaluasi desain, memilih material yang lebih kokoh, lalu membangun ulang dari awal. Kendala teknis juga muncul pada sensor pH yang gagal memberi hasil stabil, sehingga diganti dengan model baru yang lebih akurat. Setelah melewati berbagai rintangan, sistem akhirnya berhasil dipasang di lokasi mitra. Lima rak hidroponik kini berdiri, masing-masing dengan 10 paralon dan setiap paralon berisi 20 lubang tanam. Totalnya, sekitar 1.000 tanaman bisa dibudidayakan dengan teknologi otomatisasi. Petani tidak lagi harus repot melakukan pengecekan manual. Cukup membuka web, mereka bisa tahu kondisi tanaman sekaligus mengatur pemberian air dan nutrisi dengan lebih presisi. Dampaknya segera terasa. Sosialisasi yang digelar tim melibatkan 20 peserta dari masyarakat sekitar. Mereka belajar teknik penyemaian bibit hidroponik dan berhasil menumbuhkan sekitar 400 bibit yang bisa dijual atau ditanam sendiri. Edukasi ini membuka peluang usaha baru sekaligus memperkenalkan cara bercocok tanam modern yang sebelumnya asing bagi warga. Bagi mitra, keuntungan ekonomi juga meningkat berkat hasil panen yang lebih terjamin. Tak hanya soal panen, proyek ini memperkuat jejaring kolaborasi. Pemerintah kelurahan memberi dukungan, Balai Besar Pertanian Batangkaluku berbagi pengetahuan teknis, sementara SMK Telkom Makassar ikut dilibatkan untuk membantu perawatan perangkat IoT. Kolaborasi ini memastikan teknologi yang diperkenalkan tidak berhenti sebagai proyek sementara, melainkan bisa berkelanjutan di tangan masyarakat.