MinaKita: Crowdfunding dan Trade Marketing Berbasis Pengelolaan Digital Pada Sektor Budidaya Perikanan
28 Oktober 2020
Telkom University
Projek
- Judul:MinaKita: Crowdfunding dan Trade Marketing Berbasis Pengelolaan Digital Pada Sektor Budidaya Perikanan
- Tanggal:28 Oktober 2020 - 06 Desember 2020
- Lokasi Sosial Projek:Jawa Tengah, Kabupaten Klaten, Polanharjo, Nganjat.
Inovator
- Perguruan Tinggi:Telkom University
- Ketua:Shinta Kusuma Wardhani
- Angota#1:Aliyyulman Jihan
- Angota#2:Siti Hana Fajarwati
SDGs
Kesehatan yang Baik dan Kesejahteraan Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi Infrastruktur, Industri dan InovasiShare
Deskripsi
MINAKITA: CROWDFUNDING DAN TRADE MARKETING BERBASIS PENGELOLAAN DIGITAL PADA SEKTOR BUDIDAYA PERIKANAN
Lokasi Desa : Dukuh Botorejo, Desa Nganjat, Kecamatan Polanharjo
Kabupaten : Klaten
Provinsi : Jawa Tengah
Institusi : Telkom University
Total Anggaran Disetujui : Rp. 15.103.038,-
Kabupaten Klaten memiliki banyak sumber mata air sehingga banyak masyarakat yang memanfaatkannya untuk beternak ikan. Salah satunya di daerah Polanharjo, sebagian masyarakat bermata pencaharian sebagai petani ikan. Sebagian masyarakat tersebut mengolah lahan ikan milik sendiri dan ada juga yang mengolah lahan ikan milik orang lain. Berdasarkan hasil riset yang telah dilakukan oleh Dhandy (2019) tentang Potensi Desa Nganjat Polanharjo sebagai Kawasan Wisata Sentra Ikan Nila terdapat rekomendasi untuk mengembangkan dan mengolah lebih optimal kawasan Polanharjo menjadi tempat wisata yang berkelanjutan sehingga banyak dikunjungi oleh wisatawan atau pengunjung.
Kondisi Geografis Kecamatan Polanharjo adalah salah satu kecamatan yang ada di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Kecamatan Polanharjo memiliki luas wilayah 23,84 km² dengan jumlah penduduk sebanyak 36.599 yang tersebar di 18 kelurahan. Mayoritas masyarakat di Polanharjo bekerja dalam sektor pertanian dan perikanan. Polanharjo memiliki potensi-potensi yang sangat besar yaitu di perairan dan perikanan.
Semenjak ditetapkannya COVID-19 sebagai pandemi, maka salah satu upaya yang diterapkan oleh pemerintah untuk mengurangi penyebaran COVID-19 adalah Pembatasan Sosial Berskala Besar. Padahal, terdapat banyak aktivitas yang masih memerlukan interaksi fisik termasuk dalam bisnis . Salah satu sektor yang sangat dirugikan oleh COVID-19 adalah sektor pariwisata. Efek tersebut juga dirasakan oleh warga Kecamatan Polanharjo, terutama pada sektor kuliner dan sektor perikanan di Kecamatan.
Efek domino dari penutupan pariwisata menyebabkan penurunan drastis permintaan karena diminta untuk stuck memasok. Hal itu karena rumah makan olahan ikan yang memilih untuk tutup karena tidak ada pengunjung atau wisatawan yang nantinya akan mampir untuk mengisi perut dengan menikmati kuliner hasil budidaya daerah. Sedangkan ikan yang dipelihara jauh waktu sebelum pandemi sudah di besarkan, namun saat waktu panen terjadi pembatalan memasok. Sehingga terus dilakukan pembesaran dengan menambah biaya pakan hingga ikan tidak sesuai dengan ukuran konsumsi pada umumnya yang mengakibatkan perubahan rasa pada daging ikan. Disisi lain, sebenarnya pengkonsumsian ikan tidak hilang karena konsumen tidak ikut berhenti seperti rumah makan. Hanya saja untuk terus mengkonsumsi perlu usaha lebih untuk mendapatkannya sehingga memilih untuk lain waktu ketika tersedia secara mudah.
Mengamati pada proses awal bisnis yaitu input yang menyediakan permodalan. Budidaya perikanan mengalami kesulitan memperoleh uang pinjaman untuk memulai maupun melanjutkan. Peran instansi pemeritah hanya sebatas penyedia lahan berbayar yang dapat dilunasi diawal maupun dengan sistem cicilan, penentuannya menggunakan social regard sebagai bentuk dukungan kuat. Padahal modal besar terletak pada penyediaan pakan yang harganya mencapai Rp 300.000 per sack dimana harus menyediakan sekitar 70 sack dalam sekali budidaya dengan ukuran lahan standar. Dari situlah keuntungan yang didapat tidak sebanding dengan modal yang dikeluarkan. Oleh sebab itu, perlu upaya terintegrasi yang dapat membantu petani ikan dalam mendapatkan pemodalan dan juga dapat mendistribusikan hasil panen kepada konsumen.
Kegiatan dilakukan secara terjadwal pada tanggal 1 November - 5 Desember 2020 secara bertahap. Dari mulai pendekatan kepada masyarakat hingga implementasi dari projek. Stakeholder terkait yang kami rangkul untuk melaksanakan pengabdian antara lain Pembina Kelompok Pembudidaya Perikanan, Petugas Penyuluh Lapangan Perikanan Kecamatan Polanharjo, Dinas Pertanian Dan Ketahanan Pangan Kabupaten Klaten, serta satuan kerja perbenihan dan budidaya ikan air tawar Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Jawa Tengah, dan elemen dari desa yaitu Kelurahan, Rt dan Rw, serta tidak lupa Petani Ikan dan Karang Taruna yang membantu mengelola projek selanjutnya.
Projek tersebut kami ambil dengan melihat dan menganalisa permasalahan pada latar belakang diatas, maka dirumuskan identifikasi permasalahan. Pertama bagaimana membantu petani dalam menjual hasil panen mereka kepada konsumen. Lalu pada input bisnis yaitu bagaimana mendapatkan bantuan permodalan sebagai bentuk dukungan eksternal untuk terus berpacu menjadi desa berdaya mina.
Penyelesaian masalah dimulai dari hulu dan hilir terlebih dahulu untuk menangkap pendukung bisnis begitu juga pelanggan yang perlu ditarik. Manajemen input dan output diharapkan mampu membantu petani ikan karena dalam tahap ini petani tidak terlalu mumpuni. Petani ikan memaksimalkan skill budidaya pada prosesnya saja dari mulai pembenihan hingga panen. Sehingga harus ada peran yang dipegang orang lain untuk dijadikan bisnis yang panjang atau terus berkelanjutan. Kondisi ini mampu diselesaikan dengan menerapkan IT untuk mendigitalisasi langkahnya.
Pertama, crowdfunding merupakan alternatif sumber modal untuk mengajak masyarakat untuk turut ikut serta dalam pengembangan perekonomian. Dalam tahap ini ketersediaan masyarakat untuk menjadi investor disediakan tanpa minimal dan maksimal yang ditentukan. Sehingga tidak dipungkiri perputaran uang ikut mendukung perekonomian karena bermanfaat dan mendapatkan feedback lebih dari bagi hasil secara syariah dengan petani ikan dan MinaKita.
Kedua, trade marketing sebagai marketplace berbasis digital yang memanajemen alur pemasaran dari mulai promosi hingga terjadi transaksi penjualan antara petani ikan dengan konsumen atau pembeli. Menjaga agar tidak terjadin persaingan, MinaKita menjadi perantara yaitu dengan berperan sebagai pasar. Disini petani ikan hanya menyetorkan ikan segar hasil panen dan memperoleh pembayaran digital ketika terjadi transaksi penjualan serta ikan sampai ditangan konsumen. Jadi harga ikan dan kualitas ada di Mina Kita yang ditentukan bersama dalam satu harga dan kriteria kualitas yang harus dipenuhi. Supply chain produk dipegang sepenuhnya oleh MinaKita.
Rangkuman langkah penyelesaian di jadikan dalam satu mobile application dan web based yang juga berbasis mobile version. Aplikasi yang diberi nama “MinaKita” dialokasikan untuk menuai permasalahan melalui kegiatan pengabdian sosial. Rangkaian telah diringkas secara apik untuk menghasilkan alur langkah yang efektik dan efisien. Setalah sistem program aplikasi selaras dengan jalannya bisnis melalui sinkronisasi dan uji coba. Langkah praktik dilakukan dengan implementasi aplikasi pada bisnis budidaya perikanan. Diharapkan tujuan dan manfaat dari aplikasi tersampaikan kepada seluruh users dan elemen desa terkait.
Kedua sistem tersebut yaitu crowdfunding dan trade marketing dirangkum dalam satu sistem yaitu Mina kita. Sistem ini tersedia dalam bentuk mobil application dan web based dengan key word www.minakita.id. Sementara untuk mengawali sistem, web based baru sebatas sebagai company profil atau informasi yang nantinya pada tools 2 layanan tersebut tersedia link untuk mendownload aplikasi pada play store. Sistem ini difokuskan terlebih dahulu pada desa berdaya mina yaitu Dukuh Botorejo, Desa Nganjat, Kecamatan Polanharjo, Kabupaten Klaten. Nantinya akan dilakukan perluasan baik pada desa lain yang berdaya mina juga maupun pada wilayah tersebut namun lebih luas yaitu se-Kecamatan hingga Indonesia bahkan Dunia.
Berikut merupakan manfaat program MinaKita adalah sebagai berikut :
- Memberdayakan desa menjadi desa mina digital yang mampu mengeksplorasi penyedia modal dan pembeli melalui mobile application yang tersedia dalam versi web sehingga mampu diakses secara umum dan luas.
- Menumbuhkan perekonomian desa melalui tebasan masalah ketersediaan modal yang menghambat berlangsungnya budidaya dan keberadaan konsumen.
- Controlling bisnis pada sektor budidaya perikanan sehingga dapat terus berkembang secara long term.
- Hubungan yang mutualisme yang berpotensi low risk high return antara investor, petani ikan, dan konsumen.
- Menarik bisnis baru perikanan maupun lanjutan dan investor kompetitif yang mampu mendanai, begitu juga konsumen atau pelanggan.
- Mendukung petani ikan siap menghadapi globalisasi dengan semakin modern peradaban bisnis melalui peran IT.
- Terciptanya kolaborasi pembangunan ekonomi.
- Pesan dan Kesan yang Fighters Team rasakan dari mulai pesiapan proposal hingga selesainya Innovillage dan maju ke babak 10 besar antara lain:
- Berkontirbusi langsung dan menjalin interaksi hangat dengan stakeholder terkait dan juga warga di desa sasar.
- Menentukan potensi daerah yang dapat dijadikan project lanjutan.
Kami selama melakukan implementasi memiliki pengalaman yang luar biasa baik suka maupun duka. Pengalaman yang menarik bagi kami yaitu bisa berkontribusi dan berinteraksi secara langsung kewarga dari mulai wawancara ke warga, ibu-ibu ppl, hingga pak lurah. Setelah wawancara tersebut, kami menemukan titik dimana banyak potensi yang bisa dikembangkan di desa ini salah satunya yaitu dengan mempertahankan sektor perikanan dan pertaniannya. Pengalaman dukanya yaitu para petani masih belum familiar mengenai bagaimana menggunakan aplikasi dan website.