Loading...

Solusi Inovatif untuk Kemandirian Keuangan Tunanetra

04 November 2024
Universitas Telkom

Projek

  • Judul:Solusi Inovatif untuk Kemandirian Keuangan Tunanetra
  • Tanggal:04 November 2024 - 01 Februari 2025
  • Lokasi Sosial Projek:JAWA BARAT, BANDUNG, CICENDO, PASIR KALIKI.

Inovator

  • Perguruan Tinggi:Universitas Telkom
  • Ketua:Luthfillah Akhtar Fakhrudin
  • Angota#1:Luthfillah Akhtar Fakhrudin, Bima Harish Mazaya, Nurfaidzi Ramdhani Arifin

SDGs

Mengurangi Ketimpangan

Share

Deskripsi

INOVASI untuk meningkatkan kualitas hidup kelompok masyarakat tertentu menjadi sangat penting di tengah perkembangan teknologi yang semakin pesat. Salah satunya adalah inovasi alat bantu transaksi berbasis IoT yang dikembangkan untuk membantu tunanetra dalam melakukan transaksi keuangan. Inovasi ini berangkat dari masalah yang dihadapi tunanetra di Kota Bandung, khususnya di kelurahanPasirkaliki, yang sering mengalami kesulitan dalam mengenali nominal uang. Kondisi ini menghambat mereka dalam melakukan transaksi sehari-hari dengan mandiri. Untuk mengatasi masalah ini, tim mahasiswa dari Universitas Telkom merancang sebuah alat yang menggabungkan teknologi deep learning dan IoT. Alat ini menggunakan kamera untuk menangkap gambar uang dan memprosesnya melalui Raspberry Pi. Nominal uang yang dikenali kemudian disampaikan kepada penggunanya melalui suara, memungkinkan tunanetra untuk mengetahui nilai uang yang mereka pegang. Produk ini bertujuan untuk meningkatkan kemandirian tunanetra dalam bertransaksi dan mengurangi kesenjangan dalam akses ke layanan keuangan. Proses implementasi inovasi ini melibatkan tahapan yang cukup panjang, dimulai dari perancangan model dan alat, pembuatan prototipe, hingga penyempurnaan alat dan penyerahan ke tunanetra. Dalam tahap akhir, tim menyelesaikan pembuatan alat dengan casing ergonomis yang mudah digenggam serta melindungi komponen elektronik yang ada di dalamnya. Setelah alat siap, tim mengadakan sesi pelatihan bagi tunanetra untuk memperkenalkan cara penggunaan alat tersebut. Sesi ini juga menjadi wadah bagi tunanetra untuk memberikan masukan dan memastikan alat ini sesuai dengan kebutuhan mereka. Meskipun tantangan teknis seperti pengadaan komponen elektronik yang sesuai spesifikasi dan pengujian kompatibilitas antar komponen cukup menguras tenaga, tim berhasil menemukan solusi yang tepat. Keberhasilan dalam menciptakan alat ini tidak hanya berfokus pada aspek teknis, tetapi juga pada hubungan yang dibangun dengan komunitas tunanetra melalui kolaborasi dengan pengurus disabilitas. Kolaborasi ini sangat penting untuk memperoleh data yang akurat tentang penerima manfaat serta memastikan sosialisasi yang efektif di lapangan. Potensi keberlanjutan dari proyek ini juga cukup besar. Ke depan, tim berencana mengembangkan aplikasi seluler yang mengintegrasikan model pengenalan uang untuk menjangkau lebih banyak tunanetra, mengingat banyaknya tunanetra yang menggunakan ponsel pintar dengan fitur talkback. Dengan adanya aplikasi ini, alat bantu transaksi akan dapat digunakan oleh lebih banyak tunanetra di berbagai daerah. Secara keseluruhan, inovasi ini tidak hanya memberikan solusi bagi masalah yang dihadapi tunanetra, tetapi juga turut berkontribusi pada pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), terutama dalam hal Pendidikan Berkualitas dan Mengurangi Kesenjangan. Melalui alat ini, diharapkan para tunanetra dapat lebih mandiri dalam bertransaksi, membuka akses yang lebih luas bagi mereka dalam kehidupan sosial dan ekonomi.

Top