Upaya Menjaga Pasar Cikurubuk Tetap Aman
01 November 2024
Universitas Mayasari Bakti
Projek
- Judul:Upaya Menjaga Pasar Cikurubuk Tetap Aman
- Tanggal:01 November 2024 - 01 Februari 2025
- Lokasi Sosial Projek:JAWABARAT, TASIKMALAYA, MANGKUBUMI, DESA LINGGAJAYA.
Inovator
- Perguruan Tinggi:Universitas Mayasari Bakti
- Ketua:Wildan Sani
- Angota#1:Wildan Sani, Tiara Maulida, Meisya Shafa
SDGs
Infrastruktur, Industri dan InovasiShare
Deskripsi
P ASAR tradisional tidak hanya menjadi pusat jual beli, tetapi juga urat nadi ekonomi masyarakat. Pun demikian dengan Pasar Cikurubuk di Desa Linggajaya, Kecamatan Mangkubumi, Kota Tasikmalaya. Setiap hari, ribuan orang beraktivitas di sana, dari pedagang kecil, petani lokal, hingga konsumen yang datang dari berbagai daerah. Namun, di balik keramaian itu, tersimpan ancaman yang nyata. Dalam beberapa tahun terakhir, pasar ini berkali-kali dilanda kebakaran, bahkan ada insiden besar yang melahap lebih dari seratus kios pada 2023. Kondisi itu menimbulkan keresahan. Tidak hanya kerugian materi, tetapi juga ancaman bagi keselamatan jiwa. Kebakaran sering dipicu oleh instalasi listrik yang tidak terawat atau penyimpanan barang yang mudah terbakar. Respons darurat yang lambat membuat api cepat membesar, sementara pasar belum memiliki sistem pemantauan yang mampu memberi peringatan dini. Situasi tersebut mendorong sekelompok mahasiswa Universitas Mayasari Bakti yang tergabung dalam tim SafeTechGuard Innovators untuk mencari solusi. Mereka menawarkan pendekatan baru: sistem peringatan dini berbasis Internet of Things (IoT). Ide dasarnya sederhana, namun berdampak besar: mendeteksi potensi bahaya sejak dini dan menyebarkan peringatan secara cepat kepada pedagang maupun pengelola pasar. Sistem ini menggunakan mikrokontroleESP32 yang terhubung dengan sensor gas MQ-5 dan sensor api. Jika terdeteksi kebocoran gas atau nyala api, alat akan langsung memicu bunyi pengeras suara di lokasi dan mengirimkan notifikasi real-time melalui website monitoring. Data dari sensor ditampilkan di dashboard, lengkap dengan riwayat kejadian, sehingga memudahkan pengelola pasar melakukan evaluasi. Inovasi ini tidak berhenti pada deteksi kebakaran. Rancangannya juga bisa dikembangkan untuk memantau bencana lain seperti banjir atau kerusuhan di sekitar pasar. Fitur notifikasi instan menjadi kunci agar masyarakat bisa bereaksi dalam hitungan detik, bukan menit. Implementasi proyek berlangsung selama dua setengah bulan. Tim melibatkan banyak pihak, mulai dosen pendamping, kepala pasar, pedagang, hingga pemerintah desa. Mereka tidak hanya memasang perangkat, tetapi juga melakukan sosialisasi dan pelatihan agar pedagang terbiasa dengan teknologi ini. Sebanyak lima unit alat IoT berhasil dipasang di titik rawan pasar, terutama kios yang menjual bahan mudah terbakar. Hasilnya mulai terasa. Hingga akhir program, belum ada insiden kebakaran besar yang tercatat. Pedagang mengaku lebih tenang berdagang, sementara pengunjung merasa lebih nyaman berbelanja. Dari 500 pedagang, sebagian besar memberi umpan balik positif. Survei awal menunjukkan 90 persen merasa lebih aman, dan sistem mampu mengirimkan peringatan dalam waktu kurang dari lima detik. Meski sempat menghadapi kendala teknis seperti sinyal internet yang tidak stabil, tim berhasil mengatasinya dengan antena eksternal dan kalibrasi ulang sensor. Tantangan sosial juga muncul, sebab sebagian pedagang awalnya meragukan efektivitas alat. Namun, demonstrasi langsung dan pelibatan mereka dalam uji coba membuat kepercayaan itu tumbuh.