Perangkap Nyamuk Tenaga Surya untuk Mengatasi Malaria
01 November 2024
Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara
Projek
- Judul:Perangkap Nyamuk Tenaga Surya untuk Mengatasi Malaria
- Tanggal:01 November 2024 - 01 Februari 2025
- Lokasi Sosial Projek:SUMATERA UTARA, SERDANG BEDAGAI, TANJUNG BERINGGIN, BAGAN KUALA.
Inovator
- Perguruan Tinggi:Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara
- Ketua:Arya Noviardy
- Angota#1:Arya Noviardy, Zahra Ramadhani, Ahsanu Rijal
SDGs
Kesehatan yang Baik dan KesejahteraanShare
Deskripsi
ANGKA kejadian malaria di Kabupaten Serdang Bedagai, Provinsi Sumatera Utara menunjukkan peningkatan yang sangat signifikan, terutama di Desa Bagan Kuala. Dalam dua tahun terakhir, kasus malaria meningkat lebih dari 1.500%, dengan 63 kasus pada 2022 dan 955 kasus pada Oktober 2023. Kondisi ini diperburuk oleh lingkungan yang mendukung perkembangbiakan nyamuk Anopheles. Banjir akibat air pasang laut dan sampah yang menggenang menciptakan tempat ideal bagi nyamuk penyebar malaria. Meskipun berbagai upaya telah dilakukan, seperti penyemprotan dan pengobatan gratis, hasilnya belum efektif dalam menurunkan jumlah kasus malaria di desa tersebut. Untuk mengatasi masalah ini, tim SMART mengembangkan inovasi berupa Smart Anopheles Trap Lamp, sebuah lampu perangkap nyamuk berbasis tenaga surya. Lampu ini tidak hanya menggunakan sinar ultraviolet untuk menarik nyamuk, tetapi juga dilengkapi dengan detektor suhu, cahaya, dan waktu, yang dapat mengatur kapan lampu ini akan berfungsi berdasarkan kondisi lingkungan yang mendukung keberadaan nyamuk. Sistem ini dikendalikan menggunakan IoT berbasis Wi-Fi, dengan dukungan jaringan Telkomsel. Inovasi ini bertujuan untuk mengurangi populasi nyamuk dan mencegah penyebaran malaria di Desa Bagan Kuala. Yang menarik, inovasi ini tidak hanya mengandalkan teknologi konvensional, seperti lampu perangkap biasa, tetapi mengintegrasikan berbagai fitur canggih. Salah satunya adalah pengaturan detektor yang disesuaikan dengan aktivitas nyamuk Anopheles, yakni saat suhu dan cahaya tertentu yang mengindikasikan waktu aktif nyamuk. Ini memastikan efisiensi perangkap nyamuk secara maksimal, tanpa perlu pengawasan manual setiap saat. Selain itu, sistem IoT yang terhubung ke Wi-Fi memungkinkan pemantauan dan pengontrolan lampu jarak jauh menggunakan smartphone, memberi keleluasaan bagi penggunanya untuk mengatur waktu operasional lampu sesuai kebutuhan. Proses implementasi dimulai dengan perencanaan dan persiapan, di mana tim bersama dengan kepala desa dan dosen pembimbing mendiskusikan lokasi pemasangan lampu dan kebutuhan alat. Selanjutnya, proses perakitan alat dilakukan dengan menggunakan bahan-bahan yang telah dibeli, dan uji coba dilakukan untuk memastikan lampu bekerja dengan baik. Setelah itu, dilakukan pemasangan di sembilan titik di Desa Bagan Kuala, dengan tujuan agar nyamuk dapat tertangkap oleh lampu perangkap yang otomatis bekerja pada waktu yang tepat. Hasil dari implementasi ini menunjukkan bahwa sekitar 80% serangga yang tertangkap adalah nyamuk, dan populasi nyamuk di malam hari berkurang signifikan. Warga desa merasakan manfaatnya, terutama ketika mereka bisa beraktivitas malam hari tanpa khawatir akan serangan nyamuk. Berdasarkan data puskesmas, tidak ada warga yang terkena malaria setelah pemasangan lampu, yang menunjukkan efektivitas lampu perangkap dalam menurunkan kejadian malaria di desa tersebut. Selain itu, kegiatan nelayan di desa juga berjalan lancar tanpa hambatan kesehatan. Social project ini juga memberikan dampak positif bagi Telkomsel, yang terlibat dalam menyediakan jaringan Wi-Fi untuk mendukung pengoperasian alat ini. Dengan terlibat dalam proyek ini, Telkomsel semakin dikenal sebagai perusahaan yang peduli terhadap kesehatan masyarakat. Program ini juga membuka peluang untuk pengembangan lebih lanjut, seperti penambahan sensor untuk mendeteksi jumlah nyamuk atau penggunaan modul LoRa untuk meningkatkan efisiensi komunikasi antar lampu perangkap. Keberlanjutan dari proyek ini sangat memungkinkan, dengan rencana untuk memperluas pemasangan lampu di seluruh dusun di desa Bagan Kuala. Inovasi ini tidak hanya memberikan dampak positif dari segi kesehatan tetapi juga meningkatkan kesadaran dan keterlibatan masyarakat dalam menjaga lingkungan dan kesehatan mereka. Harapannya, program ini dapat terus dilanjutkan dan diperluas ke daerah-daerah lain yang memiliki masalah serupa dengan malaria.