Loading...

Inovasi Cerdas Petani Melawan Tikus Sawah

01 November 2024
Telkom University Purwokerto

Projek

  • Judul:Inovasi Cerdas Petani Melawan Tikus Sawah
  • Tanggal:01 November 2024 - 01 Februari 2025
  • Lokasi Sosial Projek:JAWA TENGAH, BANYUMAS, SUMBANG, LIMPAKUWUS.

Inovator

  • Perguruan Tinggi:Telkom University Purwokerto
  • Ketua:Dio Syahputra
  • Angota#1:Dio Syahputra, Aliff Akbar Pelawi, Muhammad Khairi Fakhri

SDGs

Menghapus Kemiskinan Mengakhiri Kelaparan Konsumsi dan Produksi yang Bertanggungjawab

Share

Deskripsi

HAMA tikus sudah lama menjadi momok bagi petani padi di berbagai daerah. Kehadiran hewan kecil ini mampu meluluhlantakkan hasil panen hanya dalam hitungan malam. Di Desa Limpakuwus, Kabupaten Banyumas, permasalahan ini begitu nyata. Upaya tradisional seperti penggunaan racun atau pengasapan sering kali tidak memberi hasil maksimal. Bahkan, cara-cara lama itu kadang menimbulkan masalah baru bagi kesehatan dan lingkungan. Dari keresahan itulah muncul gagasan inovatif bernama RatHat, karya sekelompok mahasiswa Telkom University Purwokerto. Mereka mencoba menawarkan solusi baru dengan menggabungkan teknologi modern dan sumber energi terbarukan agar petani bisa lebih tenang menjaga sawahnya. RatHat bukan perangkap tikus biasa. Alat ini dirancang untuk memanfaatkan teknologi ultrasonik yang menghasilkan suara tidak disukai tikus. Suara itu mengarahkan tikus menjauh dari tanaman padi dan menuntunnya ke perangkap khusus yang sudah dilengkapi umpan ramah lingkungan. Inovasi ini makin istimewa karena dilengkapi Internet of Things (IoT) yang memungkinkan pemantauan melalui aplikasi di ponsel. Dengan begitu, petani bisa mengetahui kondisi perangkat secara real-time. Energi panel surya membuat perangkat tetap berfungsi meski dipasang di area persawahan yang jauh dari akses listrik. Dengan kombinasi tersebut, RatHat menjadi alat yang sederhana namun memiliki nilai tambah besar bagi petani. Proses pengembangan RatHat melalui banyak tahapan. Tim mahasiswa memulai dengan observasi dan wawancara untuk mengetahui kondisi lapangan. Mereka kemudian merancang perangkat menggunakan komponen seperti ESP32-CAM, speaker ultrasonik, baterai isi ulang, dan panel surya. Uji coba dilakukan baik di laboratorium maupun langsung di sawah. Tantangan tentu tidak sedikit. Speaker yang digunakan harus diganti dengan ukuran lebih besar agar efektif, desain perangkap harus disesuaikan, hingga perlunya menambah tenaga programmer untuk mempercepat pengembangan aplikasi. Namun, berkat kerja sama dengan dosen pembimbing, teknisi lokal, dan pemerintah desa, hambatan-hambatan tersebut dapat dilalui dengan baik. Sosialisasi kepada petani menunjukkan hasil yang menggembirakan. Dari 20 orang yang diundang, 15 hadir dan menunjukkan antusiasme tinggi. Banyak di antara mereka yang bertanya mengenai kemungkinan distribusi alat secara merata. Harapan petani sederhana: perangkat ini bisa segera digunakan di sawah mereka. Meski baru sebatas prototipe, RatHat sudah memberi gambaran nyata tentang efektivitas pendekatan teknologi terhadap masalah klasik pertanian. Halini juga memperlihatkan bahwa kepercayaan masyarakat menjadi kunci penting dalam penerimaan inovasi. Petani ingin diyakinkan bahwa perangkat ini benar-benar bermanfaat, bukan sekadar alat yang menimbulkan suara tanpa efek nyata, seperti produk ultrasonik lain yang banyak beredar di pasaran. Dampak awal inovasi ini belum bisa diukur dari peningkatan hasil panen secara langsung. Namun, indikator kepuasan petani yang hadir pada sosialisasi sangat positif. Seluruh peserta menyatakan puas dengan penjelasan tim dan optimis terhadap manfaat RatHat. Bagi tim mahasiswa sendiri, pengalaman ini menjadi pembelajaran berharga. Mereka tidak hanya berlatih mengembangkan produk, tetapi juga belajar manajemen proyek, pengelolaan waktu, dan cara berkomunikasi dengan masyarakat. Semua itu adalah bekal penting untuk menjaga keberlanjutan inovasi.

Top