Hero.bin: Optimalisasi Manajemen Sampah Berbasis Aplikasi Terintegrasi Budidaya Akuaponik di Desa Sugiale
Realisasi SDGs Goal 12 terkait Responsible Consumption and Production harus dilaksanakan secara konsisten. Salah satu bentuk pertanggungjawaban dari perilaku konsumsi dan produksi adalah pengelolaan sampah. Desa sebagai pemerintahan terkecil, memiliki peran penting sebagai garda terdepan dalam pengelolaan sampah. Desa Sugiale merupakan 1 dari 18 desa/kelurahan yang terletak di Kecamatan Barebbo, Kabupaten Bone, Provinsi Sulawesi Selatan dengan luas wilayah ±7,00 km2 . Pemerintah Desa Sugiale masih menggantungkan pengelolaan sampah pada mekanisme konvensional yaitu pengumpulan sampah, pengangkutan sampah ke Tempat Penampungan Sementara (TPS) dan pemusnahan sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Mekanisme pengelolaan sampah dengan pola linear tersebut menimbulkan permasalahan ketika armada pengangkut sampah mogok beroperasi. Warga Desa Sugiale akhirnya memutuskan untuk membuang sampah di lahan kosong atau membakar sampah di halaman rumah. Permasalahan pengelolaan sampah di Desa Sugiale mulai sedikit teratasi sejak berdirinya Bank Sampah Al Muqarrabin yang dikelola oleh Ikatan Remaja Masjid (Irmas) Al Muqarrabin. Pihak Irmas menjadi perantara warga desa dengan berbagai mitra seperti pemilik pabrik rak telur dan TPS Binaan Dinas Lingkungan Hidup Kab. Bone untuk menjual sampah anorganik yang dikumpulkan dari warga Desa Sugiale. Mekanisme pengelolaan bank sampah yang masih konvensional dengan pencatatan secara manual di buku tabungan nasabah menjadi kendala baru ketika jumlah nasabah bank sampah Al Muqarrabin meningkat. Kendala tersebut berupa risiko dokumen rusak, hilang atau kesalahan dalam pencatatan. Selain itu, pihak bank sampah hanya menerima sampah anorganik warga desa untuk dijual, mekanisme pengelolaan sampah organik di Desa Sugiale belum memiliki metode tersendiri sehingga cenderung terbaikan.
Berdasarkan analisis permasalahan pengelolaan sampah di Desa Sugiale, tim mengusulkan sebuah program berjudul “Hero.bin: Optimalisasi Manajemen Sampah Berbasis Aplikasi Terintegrasi Budidaya Akuaponik di Desa Sugiale”. Melalui program ini, tim membuat aplikasi Hero.bin sebagai bentuk digitalisasi manajemen sampah oleh bank sampah Al Muqarrabin. Pelaksanaan program tersebut diintegrasikan dengan budidaya akuaponik sebagai bentuk pengelolaan sampah organik. Sampah organik warga desa akan dikumpulkan dan dijadikan media budidaya maggot oleh mitra bank sampah sehingga maggot tersebut dapat dijadikan sebagai pakan ikan dalam budidaya akuaponik yang dikelola oleh Bank Sampah Al Muqarrabin. Sebagai bentuk integrasi dengan aplikasi, hasil budidaya akuaponik akan dijual dan dijadikan reward bagi user setelah mengumpulkan poin tertentu. Implementasi program berlangsung dalam tiga periode implementasi. Pada periode pertama, tim memulai progres implementasi dengan rapat internal untuk pemetaan tugas dan terlebih dahulu berkoordinasi bersama dosen pembimbing terkait timeline program yang telah disusun. Selanjutnya, tim melaksanakan observasi wilayah dan berkoordinasi dengan sejumlah stakeholder yang meliputi kepala Desa Sugiale dan pengurus Bank Sampah Al Muqarrabin terkait rencana implementasi program di Desa Sugiale. Setelah itu, tim mengadakan Focus Group Discussion (FGD) untuk mensosialisasikan program kepada warga Desa Sugiale. Tim juga telah memulai perancangan desain UI/UX aplikasi menggunakan figma dan desain budidaya akuaponik serta membeli sejumlah kelengkapan budidaya akuaponik. Pada periode kedua, tim melengkapi pembelian komponen budidaya akuapoik dan mulai merealisasikan desain akuaponik dengan membangun kerangka akuaponik di dekat Bank Sampah Al Muqarrabin. Tim juga memulai pembuatan website yang menjadi halaman admin dalam mengelola data pengguna aplikasi Hero.bin serta melakukan pengembangan aplikasi Hero.bin dengan terus berkoordiasi bersama dosen pembimbing. Selain itu, tim bersama dengan pengurus Bank Sampah Al Muqarrabin melakukan sejumlah pembenahan di lokasi Bank Sampah yang meliputi kegiatan peimbunan tanah, penataan barang, pengecatan ulang dan penggantian spanduk Bank Sampah. Pada periode ketiga, tim mengawali implementasi dengan rapat internal persiapan finalisasi program untuk merampungkan seluruh luaran program yang meliputi aplikasi, website dan budidaya akuaponik. Tim dibantu pengurus bank sampah telah menyelesaikan pembangunan budidaya akuaponik. Aplikasi dan website juga telah dirampungkan dan dikoordinasikan bersama dosen pembimbing. Setelah itu, tim mengadakan launching dan sosialisasi penggunaan aplikasi Hero.bin kepada warga Desa Sugiale. Sebagai bentuk pendampingan kepada sasaran, tim menggelar sejumlah pelatihan kepada pengurus bank sampah. Tim menggelar pelatihan akuaponik dibantu oleh Handytani sebagai mitra untuk mensosialisasikan mekanisme budidaya akuaponik kepada pengurus Bank Sampah Al Muqarrabin. Tim juga telah mensosialisasikan cara penggunaan aplikasi admin dan website kepada pengurus Bank Sampah serta memberi pelatihan desain dan copywriting agar mereka memiliki skill tambahan dan dapat mengelola aplikasi secara mandiri. Di akhir implementasi, tim kembali mengadakan rapat internal dan diskusi bersama dosen pembimbing untuk mengevaluasi implementasi program serta mendiskusikan aspek keberlanjutan program.
Berdasarkan data dari pengurus Bank Sampah Al Muqarrabin, jumlah nasabah bank sampah hingga saat ini adalah 94 kepala keluarga dari 334 kepala keluarga di Desa Sugiale (BPS, 2020). Adanya aplikasi Hero.bin yang telah mendigitalisasi manajemen sampah bank sampah Al Muqarrabin diharapkan dapat meningkatkan partisipasi warga Desa Sugiale untuk menjadi nasabah bank sampah. Hal tersebut didasarkan pada hasil wawancara kepada salah satu warga pada kegiatan launching dan sosialisasi bahwa aplikasi ini telah membantu transparansi data nasabah sehingga dapat memacu warga untuk mengumpulkan sampah mereka. Selain itu, nasabah merasa sangat terbantu karena dapat melunasi pajak bumi bangunan (PBB) melalui aplikasi dengan saldo hasil penjualan sampah mereka. Pengurus bank sampah Al Muqarrabin juga sangat terbantu dengan aplikasi ini karena memudahkan mereka dalam menginput data dan memantau arus pemasukan serta pengeluaran nasabah. Selain itu, pengurus bank sampah Al Muqarrabin telah memiliki mekanisme pengelolaan sampah organik melalui budidaya akuaponik. Bank sampah Al Muqarrabin telah dapat menerima sampah organik warga Desa Sugiale. Hasil budiaya akuaponik berupa sayuran dapat dipanen dalam 28 hari sekali, sedangkan ikan lele dapat dipanen dalam 3-4 bulan sekali. Hasil tersebut dapat menjadi pemasukan tambahan bagi bank sampah serta reward bagi nasabah bank sampah Al Muqarrabin. Aplikasi Hero.bin untuk saat ini dapat digunakan dalam jangka waktu 3 tahun. Pengurus bank sampah Al Muqarrabin dapat terus memperpanjang hosting dan domain aplikasi menggunakan dana dari hasil budidaya akuaponik. Tim akan terus berkoordinasi dengan pengurus bank sampah terkait pengembangan aplikasi seperti penambahan fitur, pemantauan aplikasi serta menjadi tempat konsultasi dalam mengelola aplikasi. Tim akan memperluas jangkauan aplikasi Hero.bin agar dapat diimplementasikan di desa-desa lainnya dan membantu reduksi distribusi sampah di TPA. Program ini akan melibatkan sejumlah komunitas dan mitra untuk bersama-sama mengakselerasi digitalisasi pengelolaan sampah di desa tanpa mengesampingkan pengelolaan sampah yang ramah lingkungan untuk mencapaiSDGs Goal 12.
Jangan lewatkan video implementasinya disini : https://youtu.be/Fnfyb-0osWA