Loading...

Transformasi Desa Pengejaran dengan Teknologi Hijau

01 November 2024
Universitas Pendidikan Ganesha

Projek

  • Judul:Transformasi Desa Pengejaran dengan Teknologi Hijau
  • Tanggal:01 November 2024 - 01 Februari 2025
  • Lokasi Sosial Projek:BALI, BANGLI, KINTAMANI, PENGEJARAN.

Inovator

  • Perguruan Tinggi:Universitas Pendidikan Ganesha
  • Ketua:I Wayan Juli
  • Angota#1:I Wayan Juli, Ni Kadek Pian Siani, Ni Komang Meliani

SDGs

Menghapus Kemiskinan Mengakhiri Kelaparan Pendidikan Bermutu Energi Bersih dan Terjangkau Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi Konsumsi dan Produksi yang Bertanggungjawab Penanganan Perubahan Iklim

Share

Deskripsi

DESA Pengejaran di Kecamatan Kintamani, Bangli, Bali, menyimpan kekayaan alam yang luar biasa. Hutan seluas 150 hektar menghadirkan hasil nonkayu seperti madu dan kopi, sementara lahan pertanian yang luas menghasilkan jeruk, jagung, dan sayuran. Namun, di balik potensi itu, desa menghadapi masalah serius. Penebangan liar, alih fungsi lahan, dan perubahan iklim mengancam kelestarian hutan. Ketersediaan listrik juga belum merata, membuat banyak aktivitas masyarakat terhambat. Produk hasil hutan pun sulit menembus pasar karena keterbatasan pengetahuan dan akses teknologi. Dari tantangan itu lahirlah gagasan menjadikan Desa Pengejaran sebagai Smart Forest Village berbasis teknologi hijau. Tim mahasiswa Universitas Pendidikan Ganesha bersama dosen pendamping menawarkan solusi sederhana namun berdampak luas. Mereka menghadirkan lampu tenaga surya untuk penerangan jalan dan permukiman, membangun platform digital untuk pemantauan hutan sekaligus pemasaran produk, menerapkan sistem agroforestri dengan penanaman alpukat, hingga menginisiasi program desa edukasi lingkungan. Semua ini dipadukan dengan pelatihan diversifikasi hasil hutan agar produk madu dan kopi desa memiliki nilai tambah. Fitur inovasi yang dijalankan terlihat nyata. Lampu tenaga surya kini berdiri di titik strategis desa, memberikan penerangan tanpa biaya listrik. Warga yang dulu hanya mengandalkan senter kini bisa beraktivitas lebih aman di malam hari. Website Smart Forest Village memungkinkanmasyarakat melaporkan kejadian di hutan, mengakses materi edukasi konservasi, hingga menjual produk melalui e-commerce. Melalui agroforestri, KWT Mekar Sari menanam 20 pohon alpukat aligator yang diharapkan menambah pendapatan dalam jangka panjang. Generasi muda desa pun ikut belajar, dari siswa SD yang dikenalkan pada teknologi panel surya hingga siswa SMP yang mempelajari diversifikasi hasil hutan. Dampak implementasi ini terasa luas. Pemerintah desa mencatat penghematan biaya listrik hingga 57 persen berkat lampu surya. Toko desa memperpanjang jam operasional dan mencatat kenaikan pendapatan hingga 40 persen. KWT Mekar Sari kini memiliki produk madu dan kopi dengan kemasan higienis yang siap bersaing di pasar digital. Proyeksi ekonomi pun menjanjikan, dengan pendapatan kelompok tani yang diperkirakan meningkat hingga 83 persen dalam dua tahun ke depan. Dari sisi sosial, semangat gotong royong warga menguat, sementara siswa sekolah mulai tumbuh sebagai generasi peduli lingkungan. Smart Forest Village tidak hanya soal teknologi, melainkan juga cara baru membangun desa dengan keseimbangan antara ekologi dan ekonomi. Panel surya mampu bertahan hingga 25 tahun, sementara sistem agroforestri menjanjikan keberlanjutan hasil hutan selama kelestarian dijaga. Program edukasi dan platform digital membuat pengetahuan tidak berhenti di satu generasi, melainkan diwariskan. Masyarakat, pemerintah desa, dan tim akademisi kini berjalan dengan visi yang sama: menjadikan Desa Pengejaran mandiri, lestari, dan berdaya saing.

Top