Loading...

SIMORAMBA - Sistem Irigasi dan Monitoring Sawah Otomatis di Desa Batoramba, Gowa

28 Oktober 2020
Telkom University

Projek

  • Judul:SIMORAMBA - Sistem Irigasi dan Monitoring Sawah Otomatis di Desa Batoramba, Gowa
  • Tanggal:28 Oktober 2020 - 06 Desember 2020
  • Lokasi Sosial Projek:Sulawesi Selatan, Kabupaten Gowa, Somba Opu, Bontoramba.

Inovator

  • Perguruan Tinggi:Telkom University
  • Ketua:I Gusti Ngurah Bagus Dimas Wiradyaksa
  • Angota#1:I Gede Megantara
  • Angota#2:Muhammad Nasrullah

SDGs

Kesehatan yang Baik dan Kesejahteraan Infrastruktur, Industri dan Inovasi

Share

Deskripsi

Bermula dari sebuah kiriman dosen di WhatsApp Group, dua dari tiga anggota tim merasa tertarik untuk mengikuti program social project Innovillage yang diadakan oleh CAE Tel-U. Hanya berbekal motivasi agar mendapatkan pengakuan, kami sebagai mahasiswa tingkat akhir yang tidak memiliki prestasi tentu saja tergerak demi mendapatkan sertifikat nasional beserta hadiah utama. Tim lengkap berjumlah tiga mahasiswa pun dibentuk dan rencana mengikuti program Innovillage mulai disiapkan.

Persiapan dimulai dari pembuatan daftar ide sederhana yang dapat direalisasikan. Ide yang tidak hanya bermanfaat bagi masyarakat sekitar, namun juga dapat dengan mudah dipahami dan digunakan dalam implementasinya. Memastikan bahwa ide tersebut dapat berjalan sesuai rencana bukanlah hal yang mudah. Mengingat bahwa setiap anggota tim berada di pulau yang berbeda, tentu saja setiap rencana akan mencapai tujuan akhir yang sama: ada satu orang yang harus berkorban untuk terjun sendiri ke lapangan. Setelah melalui proses diskusi yang kebanyakan berisi kalimat, “Wah, boleh tuh” hingga “Ngikut aja, deh”, kami sepakat menggunakan ide sistem irigasi sawah otomatis. Keputusan tersebut akhirnya membawa kami ke sawah di Desa Batoramba, Gowa, Sulawesi Selatan, yang kemudian menjadi pilihan lokasi implementasi social project kami.

Tahap berikutnya mulai dijalankan. Konsep sistem irigasi sawah otomatis, perancangan alat, hingga estimasi biaya mulai diperhitungkan hingga proposal dapat diselesaikan di detik-detik terakhir pengumpulan. Doa-doa menyertai keraguan dan keikhlasan kami yang tidak yakin dapat melanjutkan perjuangan menuju Top 100 Innovillage ini. Ketika kami perlahan mulai lupa, dengan rasa bangga salah satu teman kami mengabarkan bahwa judul sistem irigasi sawah otomatis kami masuk nominasi dan akan didanai dengan anggaran sebesar Rp 20.205.415. Kami tertawa, tidak menyangka, dan menghela nafas terberat yang disertai ucapan selamat serta dukungan teman-teman kami. Nafas terberat yang sebenarnya menyesali keputusan mengikuti program Innovillage, di tengah-tengah kesibukan dalam mempersiapkan proposal Proyek Akhir sebagai syarat kelulusan prodi.

Keraguan untuk melanjutkan program Innovillage mulai membesar, apalagi melihat Pakta Integritas yang seolah-olah siap mengeluarkan kami dari Telkom University jika nantinya social project tidak mencapai target yang diharapkan. Keluar dari universitas dengan predikat DO bukan tujuan akhir kami sebagai mahasiswa haus cumlaude. Kami berdiskusi kembali mengenai masa depan kami yang diakhiri dengan kalimat, “Yaudah, deh. Mau gimana lagi?” Kalimat yang menjadi awal tumbuhnya benih-benih penyebab pusing dan overthinking selama sebulan ke depan.

Kami sadar bahwa kami tidak dapat mundur lagi setelah Pakta Integritas ditandatangani. Untuk itu, kami membulatkan tekad dan siap mengikuti program Innovillage dengan sepenuh hati.

***

Proposal direview kembali, rancangan kasar yang telah dibentuk mulai diperbaiki, kemudian dilakukan penyesuaian dana yang telah disetujui dengan situasi dan kondisi sebenarnya di lapangan nanti. Pembagian tugas pun mulai diberikan agar dapat menjaga keseimbangan dan kerja sama yang baik di dalam tim. 

Laporan dan video editing dilakukan oleh I Gusti Ngurah Bagus Dimas Wiradyaksa, Perancangan alat beserta mekanismenya dilakukan oleh I Gede Megantara, dan tentu saja pahlawan dan ujung tombak tim kami, Penanggung jawab yang berkorban menyibukan diri untuk mengimplementasikan social project secara langsung di lapangan, Muhammad Nasrullah.

Pemilihan ide sistem irigasi sawah otomatis dilatarbelakangi oleh kesadaran kami sebagai masyarakat di negara agraris. Menyandang gelar tersebut, Indonesia dengan tingginya jumlah penduduk yang bekerja pada sektor pertanian berhasil memenuhi kebutuhan beras sepanjang tahun 2019 dengan beberapa catatan. Mengutip Badan Ketahanan Pangan di Indonesia, “Meskipun secara nasional kebutuhan beras dapat dipenuhi oleh produksi dalam negeri, namun produksi beras di 21 provinsi, termasuk Jawa Barat dan Sumatera Utara, belum mampu mencukupi kebutuhan domestik sehingga harus dipasok dari provinsi lain yang mengalami surplus produksi.”. Adanya penerapan social project ini diharapkan dapat meningkatkan produksi beras demi membantu permasalahan yang sedang dihadapi dengan cara melakukan automasi sistem irigasi.

Tim yang telah membungkus ide sedemikian rupa kemudian dipercantik lagi oleh dosen pembimbing kami, Bapak Denny Darlis. Atas saran beliau, nama alat kami menjadi Simoramba, yaitu Sistem Irigasi dan Monitoring Sawah Otomatis di Desa Batoramba, Gowa.

Ada dua cara sederhana dalam menggunakan Simoramba, yaitu secara otomatis seperti rencana awal, dan manual untuk penggunaan saat sistem otomatis sedang melewati proses maintenance.

Jika dilakukan secara otomatis, pengguna hanya perlu menyalakan Simoramba dan membiarkannya membuka palang pintu sawah sehingga air mulai mengalir. Mekanisme ini memanfaatkan gear box custom yang terpasang pada palang pintu sawah agar dapat berputar searah atau berlawanan arah jarum jam untuk mengatur terbuka dan tertutupnya palang. Simoramba ditenagai accu 12V yang disimpan di dalam box panel. Accu yang sudah kehabisan daya nantinya dapat dicharge kembali atau diganti. Sedangkan jika dilakukan secara manual, pengguna cukup memutar pedal secara searah atau berlawanan arah jarum jam. Monitoring pada Simoramba adalah lampu indikator untuk mengetahui apakah alat bekerja dengan baik atau tidak saat dijalankan secara otomatis. Sistem ini juga kami jelaskan secara lengkap pada video laporan akhir kami di http://bit.ly/Tim79SIMORAMBA.

Dengan adanya Simoramba, kami berharap dapat memberikan manfaat seperti mengurangi waktu dan tenaga yang diperlukan oleh palang pintu sawah konvensional. Selain itu, menjadi teknologi yang dapat membantu meningkatkan produksi beras di Indonesia untuk kedepannya.

***

Sebagai penutup, izinkan lah kami dari Tim 79, program studi D3 Teknologi Telekomunikasi, Fakultas Ilmu Terapan, Telkom University, untuk menyampaikan pesan-pesan terakhir kami dalam proses penyelesaian program Innovillage melalui Simoramba.

I Gusti Ngurah Bagus Dimas Wiradyaksa – Sumbawa, Nusa Tenggara Barat

“Mengikuti program Innovillage merupakan salah satu keputusan terbaik yang pernah saya ambil. Tidak hanya menerapkan salah satu Tri Dharma Perguruan Tinggi untuk pengabdian masyarakat, tapi dapat memimpin tim kecil dengan project besar serta mengambil keputusan penting di saat-saat genting menjadi hal langka yang mungkin tidak akan saya dapatkan kembali. Walaupun dihantui proyek akhir dan sanksi-sanksi yang mungkin kami dapatkan ketika gagal menyelesaikan program, namun Simoramba tetap dapat berjalan dengan sebagaimana mestinya. Saya tidak mungkin ada di sini jika bukan karena Megan dan Nasrullah, begitu juga dengan dorongan dan bimbingan dari Bapak Denny Darlis. Tulisan ini akan menjadi saksi perjuangan kami, dengan harapan bahwa Simoramba dan 99 proyek lain dapat memberikan dampak positif bagi diri sendiri, keluarga, dan masyarakat, yang dengan bangga membawa nama almamater Telkom University.”

I Gede Megantara – Karangasem, Bali

“Kesan saya selama mengikuti program innovilage ini adalah sangat senang dan merasa bangga bisa memberikan kontribusi terhadap perkembangan di desa dan bisa mengabdi bagi masyarakat yang merupakan salah satu dari tri dharma perguruan tinggi. Pesan saya adalah semoga kedepannya kegiatan ini dapat dilanjutkan dan bahkan harapan saya pemerintah juga ikut bergabung dalam acara ini karena kegiatan ini tidak hanya mengasah kemampuan untuk berpikir kritis tapi juga bagaimana kita bisa melakukan suatu hal dalam kondisi yang dapat dikatakan kurang mendukung.

Banyak hal yang sudah saya lalui saat mengikuti program ini ada suka dan dukanya dimana saya merasa senang bisa berkontribusi terhadap masyarakat dan ketika mengikuti acara ini saya juga mendapat teman baru yang memiliki visi sama yaitu bermanfaat bagi bangsa dan negara Indonesia. Walaupun seiring dengan suka yang saya lalui ada duka juga namun semua itu adalah bagian dari proses kita bisa tumbuh mungkin ada suatu hal yang tidak sependapat dengan team namun dari situlah saya belajar bagaimana kita mengambil keputusan yang benar-benar kita perlukan saat itu bukan hal yang kita inginkan dari sini juga saya bisa belajar untuk meletakkan skala prioritas dalam kehidupan saya.”

Muhammad Nasrullah – Makassar, Sulawesi Selatan

“Saya berharap dengan adanya program innovillage ini akan menambah jiwa kreatifitas dan kepedulian terhadap lingkungan, karena dengan adanya program ini kita dapat membuat suatu karya dan memberikan kepada daerah kita serta digunakan sebaik-baiknya dan menjadi ajang unjuk diri bahwasanya kita anak daerah mampu menciptakan suatu karya yang dapat digunakan oleh daerah kita sendiri. Walaupun pada saat kegiatan ini berlangsung kita juga sedang melaksakan kuliah jadi kita harus memanajemen waktu kita sebaik-baiknya agar semua berjalan dengan baik dan dapat menjadi pengalaman yang berkesan bagi pribadi sendiri.”

Setelah melewati banyak hal, kami sadar bahwa Simoramba menjadi penutup terbaik kami di akhir tahun 2020. Setiap doa, pemikiran, dan keringat, telah kami curahkan agar dapat memberikan hasil terbaik beserta manfaatnya bagi masyarakat. Di titik ini, tidak ada hal yang lebih besar bagi kami untuk disampaikan selain ucapan terima kasih. 

Terima kasih, terima kasih, dan terima kasih.


Intip keseruannya pada video dokumentasi berikut

Top