Limbah Jamur Jadi Penyelamat Sungai Batik
01 November 2024
Universitas Telkom
Projek
- Judul:Limbah Jamur Jadi Penyelamat Sungai Batik
- Tanggal:01 November 2024 - 01 Februari 2025
- Lokasi Sosial Projek:JAWA BARAT, BANDUNG, ARCAMANIK, CISARANTEN KULON.
Inovator
- Perguruan Tinggi:Universitas Telkom
- Ketua:Muhammad Alfian Alfarizi
- Angota#1:Muhammad Alfian Alfarizi, Marcell Reinard Lie, Devdan Wisesa Putranto
SDGs
Akses Air Bersih dan Sanitasi Konsumsi dan Produksi yang Bertanggungjawab Menjaga Ekosistem LautShare
Deskripsi
I NDUSTRI batik tumbuh pesat sejak diakui UNESCO pada 2009. Di balik kebanggaan itu, muncul persoalan serius: limbah cair batik rumah tangga yang mengandung timbal. Di Kabupaten Bandung, persoalan ini menjadi nyata. Banyak perajin batik kesulitan mengurus izin usaha karena tidak memiliki sistem pengolahan limbah. Air buangan berpotensi mencemari sungai dan membahayakan kesehatan masyarakat. Sekelompok mahasiswa Universitas Telkom melihat masalah ini sebagai peluang untuk berinovasi. Mereka menghadirkan LRMT atau Lead Reducer with Mushroom Technology, sebuah alat sederhana namun efektif yang memanfaatkan limbah media tanam jamur, atau baglog, sebagai penyerap timbal. Alih-alih menjadi sampah, baglog diolah menjadi bubuk aktif yang mampu mengikat ion timbal dari limbah cair batik. Inovasi ini tidak berhenti pada pemanfaatan baglog saja. Alat LRMT dirancang menggunakan energi surya, sehingga operasionalnya lebih hemat dan ramah lingkungan. Air limbah dialirkan ke bak pengaduk, bercampur dengan bubuk baglog yang sudah diaktivasi, lalu keluar dengan kandungan timbal yang jauh berkurang. Residu ditampung di bak akhir, sementara air lebih bersih kembali ke lingkungan. Proses implementasi dilakukan bertahap. Pertama, tim membersihkan dan mengaktifkan baglog dengan larutan asam sitrat agar daya serapnya optimal. Kedua, mereka merakit alat dengan rangka besi hollow, motor listrik, panel surya, serta sistem distribusi air otomatis. Ketiga, mereka melakukan pengujian kadar timbal sebelum dan sesudah pengolahan di Laboratorium Universitas Al Ghifari Bandung. Hasilnya mengesankan. Uji laboratorium menunjukkan penyerapan timbal mencapai ratarata 88,97 persen. Pada limbah batik tulis Garutan, kadar timbal turun lebih dari 90 persen. Bahkan pada sampel limbah washing jeans Kutawaringin, angka penyerapan mencapai 97 persen. Hasil ini membuktikan bahwa baglog memiliki potensi besar sebagai adsorben alami yang murah dan efektif. Inovasi LRMT juga memberi dampak langsung bagi mitra mereka, PT. Kinasih Marakha Esa. Perusahaan ini dapat lebih mudah mengurus izin pendirian workshop batik karena sudah memiliki sistem pengolahan limbah yang sesuai standar lingkungan. Selain itu, penggunaan panel surya menekan biaya listrik. Hitungan sederhana menunjukkan investasi panel surya bisa balik modal dalam waktu kurang dari dua tahun, sementara selanjutnya nyaris tanpa biaya operasional. Proyek ini bukan tanpa hambatan. Tim sempat kesulitan mencari pasokan baglog jamur tiram di sekitar Bandung, menghadapi keterlambatan pengiriman barang, hingga menyesuaikan dana agar alat bisa tetap terwujud. Namun semua kendala itu teratasi berkat koordinasi dengan mitra, dosen pendamping, dan laboratorium. Lebih dari sekadar teknologi, LRMT menjadi contoh bagaimana inovasi sederhana mampu menjawab persoalan lingkungan sekaligus membuka peluang ekonomi. Baglog yang sebelumnya dianggap sampah kini memberi manfaat baru. Industri batik rumah tangga yang dulu terkendala izin kini punya solusi untuk tetap berjalan dengan lebih ramah lingkungan. Tim berharap teknologi ini bisa diterapkan lebih luas, tidak hanya di batik tetapi juga industri tekstil lain yang menghadapi masalah limbah cair beracun. Mereka bahkan merancang rencana untuk menambahkan sistem monitoring digital berbasis IoT agar efektivitas alat bisa dipantau secara real-time.