Energi Surya untuk Batik Bunakem
01 November 2024
Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Projek
- Judul:Energi Surya untuk Batik Bunakem
- Tanggal:01 November 2024 - 01 Februari 2025
- Lokasi Sosial Projek:JAWA TIMUR, SURABAYA, RUNGKUT, KEDUNG BARUK.
Inovator
- Perguruan Tinggi:Institut Teknologi Sepuluh Nopember
- Ketua:Ahmad Farid Mubarok
- Angota#1:Ahmad Farid Mubarok, Andika Wahyu Vernando, Aditya Surya Eka Pratama
SDGs
Kesetaraan Gender Energi Bersih dan Terjangkau Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi Infrastruktur, Industri dan Inovasi Kemitraan Untuk Mencapai TujuanShare
Deskripsi
B ATIK bukan sekadar kain bermotif indah. Ia adalah warisan budaya yang memuat sejarah, keterampilan, dan penghidupan banyak keluarga di Indonesia. Di balik setiap goresan malam, ada cerita tentang tangantangan terampil, terutama perempuan, yang menggantungkan hidupnya pada kain bercorak itu. Namun, proses panjang pembuatan batik kerap menghadapi hambatan, salah satunya pada tahap pengeringan kain. Di komunitas Batik Tulis Buah Naga Kedung Asem (Bunakem) di Surabaya, kesulitan itu menjadi masalah sehari-hari. Batik tidak boleh dijemur langsung di bawah matahari agar serat kain tidak rusak dan warna tetap terjaga. Akibatnya, pembatik harus menunggu hingga satu atau dua hari, tergantung cuaca. Waktu produksi pun terhambat, sementara listrik rumah produksi hanya berdaya 700–1.000 watt, terlalu terbatas untuk menopang peralatan tambahan. Belum lagi, keterbatasan pengetahuan digital membuat pemasaran batik mereka belum menjangkau pasar yang lebih luas. Masalah ini mendorong lahirnya sebuah solusi inovatif dari tim mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember. Mereka meran cang Integrated Photovoltaic Batik Dryer berbasis sistem kelistrikan terpusat. Alat pengering ini menggunakan energi matahari sebagai sumber utama, lengkap dengan baterai penyimpan agar tetap berfungsi meski cuaca mendung atau malam hari. Teknologi ini dirancang tidak sekadar mempercepat pengeringan, tetapi juga ramah lingkungan dan mengurangi ketergantungan pada listrik rumah tangga. Fitur alat ini cukup lengkap. Panel surya menangkap energi matahari, lalu dioptimalkan melalui MPPT (Maximum Power Point Tracking). Daya dialirkan ke inverter berkapasitas 2 kW untuk mengubah arus DC menjadi AC. Lemari pengering dilengkapi blower, exhaust, dan pemanas yang mengatur sirkulasi udara dan suhu ideal. Hasilnya, proses pengeringan batik yang biasanya memakan waktu berhari-hari dapat selesai hanya dalam tiga hingga empat jam. Tidak berhenti pada aspek teknis, inovasi ini juga menyentuh aspek sosial. Tim memberi pelatihan penggunaan dan perawatan alat agar pembatik bisa mandiri. Mereka juga mendampingi dalam pemasaran digital, membangun platform ecommerce, serta menjalin kemitraan dengan pasar yang lebih potensial. Dengan begitu, inovasi ini tidak hanya menghadirkan teknologi, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru. Dampaknya mulai terasa. Para pembatik, sebagian besar perempuan dan lansia, mengaku lebih terbantu. Mereka bisa menghemat tenaga, mempercepat produksi, dan tetap menjaga kualitas batik. Waktu yang efisien memberi peluang meningkatkan jumlah produksi harian. Lebih jauh, penggunaan energi surya mendukung upaya pelestarian lingkungan sekaligus memperkuat posisi batik sebagai produk budaya yang relevan saat ini. Keunikan alat ini terletak pada keberlanjutannya. Selain mengurangi beban listrik rumah tangga, inovasi ini memberi peluang bagi Bunakem untuk mengembangkan wisata edukasi dan memperluas jaringan bisnis lokal. Tidak heran, alat ini dipandang sebagai model yang bisa direplikasi di komunitas batik lain di Indonesia. Kisah Batik Bunakem menunjukkan bagaimana teknologi, ketika berpadu dengan kearifan lokal, mampu melahirkan solusi nyata. Energi matahari yang selama ini sekadar menyinari kini menjadi sumber kekuatan baru, menjaga tradisi sekaligus membuka jalan menuju masa depan yang lebih cerah.