AROMA WANGI NUSANTARA: Minyak Atsiri Berstandar Ekspor Menggunakan Metode Fermentasi dan Penyuling Ramah Lingkungan
Kami melaksanakan penyulingan pada daun nilam yang telah di fermentasi selama 4 hari. Proses penyulingan ini menghabiskan waktu selama 3 jam dengan menggunakan 5 Kg nilam basah, dimana jika disetarakan 5 Kg daun nilam basah yang dikeringkan sama dengan 1 Kg daun nilam kering. Namun sayangnya, pada penyulingan kali ini kami belum mendapatkan hasil yang memuaskan. Minyak yang dihasilkan sedikit, warna, dan bau yang dihasilkan pun tidak sesuai dengan standar kualitas nilam seharusnya. Setelah melakukan konsultasi dengan dosen pembimbing ternyata ini disebabkan karena air yang digunakan untuk mengukus nilam terlalu banyak sehingga didih air nya menyentuh bahan baku. Hal tersebut mengakibatkan daun nilam kesulitan menghasilkan minyak.
Belajar dari kesalahan penyulingan sebelumnya, kami melakukan kembali proses penyulingan daun yang sudah di fermentasi. Sesuai dengan beberapa sumber yang kami baca proses fermentasi dapat dilakukan sekitar 2 – 10 hari. Pada proses ini menghabiskan waktu sekitar 2 jam dan menghasilkan jumlah minyak yang lebih banyak namun minyak yang dihasilkan berwarna hitam pekat dan berbau tidak sedap (gosong). Hal ini dikarenakan api terlalu besar sehingga air jadi lebih cepat menguap dan habis.
Kami pun melaksanakan konsultasi dengan dosen pembimbing. Kami diberi beberapa arahan dalam pelaksanaan penyulingan dan disarankan untuk meminta bantuan operator dari masyarakat dalam membantu pelaksanaan penyulingan.
Pada proses pelaksanaan penyulingan yang ketiga ini, kami menghabiskan waktu selama 3 jam menggunakan 5 Kg daun nilam yang sudah di fermentasi selama 9 hari. Kami cukup senang karena jumlah minyak yang dihasilkan cukup banyak yakni 66 mL. Minyak yang dihasilkan berwarna lebih bening dan baunya cukup sesuai dengan kualitas daun nilam seharusnya.
Berdasarkan tujuan awal yaitu mengharapkan waktu proses penyulingan yang lebih cepat dan rendeman minyak yang dihasilkan lebih banyak, hasil penyulingan kami telah mencapai tujuan tersebut. Hanya saja setelah berkonsultasi dengan pelaku usaha, Pak Bambang mengatakan kualitas minyak kami memang masih kurang jika dibandingkan produk yang dihasilkan pak Bambang, namun tetap sudah memiliki nilai ekonomi dan dapat dipasarkan. Menurut Pak Bambang ini merupakan inovasi yang cukup menarik apalagi jika melihat keadaan cuaca yang tidak menentu untuk melakukan pengeringan, ini dapat menjadi trobosan yang patut diterapkan. Adapun beberapa faktor yang masih harus diperhatikan dan dikembangkan bersama agar hasil minyak dari penyulingan tidak hanya menghasilkan rendeman yang banyak namun juga diiringi dengan kualitas yang lebih baik.
Pada Sabtu (26/11) kami melaksanakan sosialisasi dengan tujuan memaparkan rangkaian kegiatan yang sudah kami laksanakan dan skema proses inovasi yang kami tawarkan. Pada kesempatan ini kami menjelaskan mengenai progress dan hasil yang kami dapatkan selama melakukan penyulingan dan mendapatkan kesempatan untuk berdiskusi dan belajar langsung dengan pihak penyuling dan petani untuk menjadi masukan sekaligus bahan evaluasi kedepannya agar dapat diterapkan secara berkelanjutan. Kemudian acara ditutup dengan foto dan makan bersama.
Video implementasi project klik disini.